Moh. Dliya'ul Chaq (http://hukumislamfiqh.blogspot.com)
Islamisasi Ilmu Pengetahuan
“Islamization of Knowledge”
Abtraksi
Khilafah Abbasiyyah dikenal sebagai masa Islam berada pada posisi superior dibandingkan masyarakat Eropa yang pada masa itu justru terkungkungi masa-masa sejarah yang gelap. Keadaan menjadi berbalik ketika serbuan tentara Hulagu Khan ke Baghdad yang memusnahkan perpustakaan dan pembakaran buku-buku karya asli sarjana Islam serta perselisihan dan konflik pemikiran diantara golongan umat Islam, dan tragedi perang salib yang berkelanjutan membuat beberapa ilmuan bangsa eropa giat mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang selama ini di dominasi islam, sehingga Islam terpuruk. Kegiatan ini menghantarkan Eropa kepada periode sejarah baru umat manusia, yaitu Abad Modern dengan dimulainya Revolusi industri di Inggris dan revolusi sosial politik di Perancis pada paruh kedua abad ke-18 yang mampu menghegemoni pandangan hidup saintifik (scientific worldview) secara khusus pada epistemology yang bersumber pada akal sehingga melahirkan ideology pemikiran rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnotisme, eksistensialisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme dan liberalisme. Epistemologi Barat telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu. Menyadari keterlepasan ilmu Barat dengan nilai-nilai agama, ilmuan muslim terdorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis agama demi usaha pengembali
an totalitas dan integralitas pemahaman dan pemaknaan Islam dan berusaha mencari solusi yang signifikan dan akurat dengan merekonstruksi paradigma pemikiran Islam, yang populer disebut “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”, yakni menerima secara positif sains modern dalam bingkai prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam. Konsepsi tentang islamisasi ilmu pengetahuan bahwa ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi terikat (value bound) dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Prinsip tauhid merupakan kontruksi dasar islamisasi ilmu pengetahuan. Artinya bahwa Allah adalah sumber dari segala ilmu. Ranah kajian gerakan islamisasi ilmu pengetahuan meliputi ranah ontologi (berkaitan dengan obyek), epistemologi (berkaitan dengan metodologi) dan aksiologi (berkaitan dengan tujuan).BAB I
(PENDAHULUAN)
A. Latar Belakang
Dominasi Hegemoni peradaban Barat oleh pandangan hidup saintifik (scientific worldview) telah berdampak negatif terhadap peradaban lainnya, khususnya dalam bidang epistemologi. Epistemologi Barat bersumber kepada akal dan panca-indera. Konsep ilmu dalam peradaban Barat telah melahirkan berbagai ideologi/faham pemikiran seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnotisme, eksistensialisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme dan liberalisme. Semua aliran tersebut dibangun di atas epistemologi sekular (sekularisme).[1]
Epistemologi Barat telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu. Akibatnya, ilmu menjadi problematis dan spiritual manusia menjadi terkikis. Ilmu kepada agama menjadi antagonis. Bahkan dampak negative dari hal ini berujung pada kemerosotan peradaban, sehingga dianggap bertolak belakang dengan rasa keadilan umat manusia dan sangat mungkin merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan semua makhluk hidup ciptaan Tuhan. [2] Sudah tentu bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Dalam konteks ini, munculnya wacana Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang ramai diperbincangkan oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai disiplin ilmu, dapat dibaca sebagai kontra-hegemoni ataupun diskursus perlawanan. Gagasan ini pernah menjadi sangat popular semenjak awal dicanangkannya dan hingga sekarang masih menjadi pembicaraan di kalangan umat Islam, baik yang mendukung maupun menolaknya. Hal ini membuat penulis tertarik untuk mengkaji sejarah ide Islamisasi ilmu pengetahuan, Tokohnya dan Konsepsi Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
B. Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Mengiskhtisarkan sejarah ide Islamisasi ilmu pengetahuan
2. Mendeskripsikan Konsepsi Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
Makalah ini hanya sebatas pengantar yang pastinya terdapat kekurangan karena keterbatasan pemakalah. Saran dan masukan selalu kami harapkan.
BAB II
Prinsip Islamisasi Ilmu Pengetahuan
A. Latar Kesejarahan Munculnya Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Gagasan atau gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan merupakan salah satu upaya menjawab tantangan modernitas yang melanda umat Islam. Ada semacam guncangan di kalangan umat Islam, menyaksikan realitas yang menempatkan diri mereka pada sudut buram sejarah. Revolusi industri di Inggris dan revolusi sosial politik di Perancis pada paruh kedua abad ke-18 yang merupakan titik awal pencerahan (renaissance) di Eropa menuju peradaban modern mengantarkan Barat mencapai sukses luar biasa dalam pengembangan teknologi masa depan. Praktis, menurut Nurcholish Madjid, dunia Islam dewasa ini merupakan kawasan bumi yang paling terbelakang di antara penganut-penganut agama besar di dunia,[3] dikarenakan begitu rendahnya kemajuan yang diraih dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Rentetan sejarah mewarnai lahirnya revolusi di barat. Revolusi Abbasiyah merupakan awal kecerahan supremasi peradaban dengan dominasi yang kukuh pada ranah kebudayaan, politik maupun ekonomi. Dengan simbol kekuasaan politik Kekhalifahan Abbassiyah di Bagdad, Kekhalifahan Umayyah di Cordova, mereka pernah berada pada posisi superior dibandingkan masyarakat Eropa yang pada masa itu justru terkungkungi masa-masa sejarah yang gelap. Dinasti Abbasiyah dinilai memiliki durasi kekuasaan yang sangat lama dibanding lainnya, sekitar lima abad,[4] terhitung mulai tahun 132 H (750 M) s.d 656 H (1258).[5] Selain itu, perkembangan intelektual pemikiran keilmuan Islam pada saat itu menjadi warna kegemilangan Abbasiyyah. Baitul Hikmah yang didirikan al-Ma’mun (198 H – 219 H / 813 – 833 M) merupakan pusat kegiatan ilmiah dan telah menciptakan suasana subur pemikiran spekulatif di kalangan kaum muslimin.[6] Berbagai kitab karya-karya dari Persia dan Yunani, akibat dari gelombang hellenisme, kemudian diberikan pemaknaan ulang disesuaikan dengan konsep Agama Islam.
Sebenarnya pada saat ini Islamisasi Pengetahuan telah dilakukan, salah satu bukti adalah hadirnya pemikiran al-Kindi (W.257H/870M) dan karya Imam al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, yang menonjolkan 20 ide yang asing dalam pandangan Islam yang diambil oleh pemikir Islam dari falsafah Yunani, beberapa di antara ide tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang kemudian dibahas oleh al-Ghazali disesuaikan dengan konsep aqidah Islam.[7] Selain itu muncul beberapa konsep keilmuan baru. Dalam bidang hukum dikenal beberapa ulama besar yang mazhab mereka diikuti oleh sebagian besar umat Islam di dunia hingga sekarang, seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbal. Dalam bidang teologi seperti Imam al-Asy’ari, Imam al-Maturidi, Wasil bin ‘Ata, dan al-Jubba’i. Dalam bidang tassawuf seperti Dzun Nun al-Misri, Abu Yazid al-Busthami, dan al-Hallaj. Dalam bidang filsafat seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Miskawaih. Dan beberapa ilmuwan yang bergerak dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti Ibnu al-Haysam, Ibnu Hayyan, al-Khawarizmi, al-Masudi dan al-Razi.[8] Hal yang sedemikian tersebut, walaupun tidak menggunakan label Islamisasi, tapi aktivitas yang sudah mereka lakukan setara dengan makna Islamisasi.
Selanjutnya, konsentrasi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan terbilang sunyi, sekitar abad 18 H (abad 14 M). Sunyi tidak berarti mandek. Kehadiran Ibnu Taimiyah, Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun merupakan bentuk ketidak mendekan keilmuan. Namun bersamaan dengan itu peristiwa serbuan tentara mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan ke Baghdad yang memusnahkan perpustakaan dan pembakaran buku-buku karya asli sarjana Islam. Juga terdapat juga faktor internal, khususnya perselisihan dan konflik pemikiran diantara golongan umat Islam,[9] serta tragedi perang salib yang berkelanjutan membuat beberapa ilmuan bangsa eropa giat mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang selama ini di dominasi islam, sehingga Islam terpuruk. Kegiatan ini menghantarkan Eropa kepada periode sejarah baru umat manusia, yaitu Abad Modern.[10]
Dua peristiwa mendahului Abad modern terjadi sekitar abad ke 18 M, yakni Revolusi Industri di Inggris dan Revolusi Prancis,[11] menjadi titik awal pencerahan (renaissance) di Eropa menuju peradaban modern mengantarkan Barat menjadi pelopor sukses luar biasa dalam pengembangan teknologi masa depan. Hal ini berakibat pada perkembangan sekularisme utilitarianisme, dan materialisme. Sehingga konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri tidak bisa terhindar dari pengaruh pemikirannya.[12] Sedangkan Umat Islam sebailknya, yang hanya mengkonsumsi hasil kecanggihan teknologi Barat tanpa menyadari kaitan tali-temali historis Barat dan ilmu-ilmu Barat, sehingga umat Islam pun terjatuh dalam hegemoni Barat (imperialisme cultural) dan proses ini mengakibatkan esensi peradaban Islam semakin tidak berdaya di tengah kemajuan peradaban Barat yang sekuler.
Dampak negative terhadap peradaban akibat Dominasi Hegemoni peradaban Barat oleh pandangan hidup saintifik (scientific worldview) secara khusus pada epistemology yang bersumber pada akal sehingga melahirkan ideology pemikiran rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnotisme, eksistensialisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme dan liberalisme. Semua aliran tersebut dibangun di atas epistemologi sekular (sekularisme). Epistemologi Barat telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu.[13]
Beberapa konsep ilmu barat muncul, diantaranya oleh Nietzsche, dia berargumen bahwa agama tidak bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan. Ia menambahkan, “seseorang tidak dapat mempercayai dogma-dogma agama dan metafisika jika seseorang memiliki metode-metode yang ketat untuk meraih kebenaran di dalam hati dan kepada seseorang. Antara ilmu pengetahuan dan agama masing-masing menempati bintang yang berbeda”. Nampaknya ada indikasi bahwa ia tidak menginginkan nilai-nilai Islam masuk ke dalam pembahasan ilmu pengetahuan modern.[14] Menyadari keterlepasan ilmu Barat dengan nilai-nilai agama, ilmuan muslim terdorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis agama demi usaha pengembalian totalitas dan integralitas pemahaman dan pemaknaan Islam dan berusaha mencari solusi yang signifikan dan akurat dengan merekonstruksi paradigma pemikiran Islam, yang populer disebut “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”, yakni menerima secara positif sains modern dalam bingkai prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam.[15] Diantara para pencetus islamisasi ilmu pengetahuan adalah Sayyed Hossein Nasr, Muhammad Iqbal, Sayyed Muhammad Naquib al-Attas, Isma’il Raji al-Faruqi, termnasuk H. O. S. Tjokroaminoto dan beberapa ilmuwan Islam di Indonesia.
Pada tahun 1930-an, Muhammad Iqbal menegaskan akan perlunya melakukan proses Islamisasi terhadap ilmu pengetahuan. Beliau menyadari bahwa ilmu yang dikembangkankan oleh Barat telah bersifat ateistik, sehingga bisa menggoyahkan aqidah umat, sehingga beliau menyarankan umat Islam agar "mengonversikan ilmu pengetahuan modern". Namun demikian, Iqbal tidak menindak lanjuti ide tersebut, sehingga tidak ada kejelasan identifikasi problem epistemology barat yang sekuler, dan juga tidak mengemukakan program konseptual atau metodologis untuk megonversikan ilmu pengetahuan tersebut menjadi ilmu pengetahuan yang sejalan dengan Islam.[16] Sehingga belum ada penjelasan yang sistematik secara konseptual mengenai Islamisasi ilmu pengetahuan.
Sayyed Hossein Nasr, seorang pemikir Muslim Amerika kelahiran Islam, pada tahun 1960 memunculkan kembali ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Kesadarannya akan bahaya sekularisme dan modernisme yang mengancam dunia Islam, karena itulah beliau meletakkan asas untuk konsep sains Islam dalam aspek teori dan praktikal melalui karyanya Science and Civilization in Islam (1968) dan Islamic Science (1976). Nasr bahkan mengklaim bahwa ide-ide Islamisasi yang muncul kemudian merupakan kelanjutan dari ide yang pernah dilontarkannya.[17]
Ide tersebut selanjutnya dikembangkan oleh Syed M. Naquib al-Attas sebagai proyek "Islamisasi" yang mulai diperkenalkannya pada Konferensi dunia mengenai Pendidikan Islam yang Pertama di Makkah pada tahun 1977. Al-Attas dianggap sebagai orang yang pertama kali mengupas dan menegaskan tentang perlunya Islamisasi pendidikan, Islamisasi sains, dan Islamisasi ilmu. Dalam pertemuan itu beliau menyampaikan makalah yang berjudul "Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and Aims of Education". Ide ini kemudian disempurnakan dalam bukunya, Islam and Secularism (1978) dan The concepts of Education in Islam A Framework for an Islamic Philosophy of Education (1980). [18] Persidangan inilah yang kemudian dianggap sebagai pembangkit proses Islamisasi selanjutnya.
Selanjutnya, ide al-Attas disambut baik oleh Ismail Raji al-Faruqi dengan agenda Islamisasi Ilmu Pengetahuannya. Ide-ide al-Faruqi tentang islamisasi ilmu pengetahuan dimunculkan dalam bentuk buku dan artikel-artikel, serta mendirikan organisasi social-keagamaan yang konsen di bidang Intelektual. Ia mendirikan The Association of Muslim Social Scientists (Himpunan Ilmuwan Sosial Muslim –AMSS) tahun 1972 dan menjadi presidennya yang pertama selama dua periode (periode kedua; 1978-1982). [19] Juga mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang merupakan perguruan tinggi yang didirikan oleh Ismail Raji al-Faruqi untuk mendukung Islamisasi ilmu pengetahuan yang digagasnya.
Selanjutnya di Indonesia, H.O.S Tjokroaminoto dianggap juga telah memperjuangkan islamisasi Ilmu Pengetahuan. Konsepnya tertera dalam bukunya “Islam dan Sosialisme” yang terbit tahun 1925. Bila dilihat dari waktu terbitnya buku ini jelas sekali apa yang dilakukan oleh Tjokroaminoto mendahului apa yang dilakukan Faruqi dan Al-Attas, bahkan Iqbal sekalipun. Penolakannya terhadap prinsip sosialisme yang materialistik telah menempatkan Tjokroaminoto sebagai salah satu pemikir Indonesia paling awal dengan proses Islamisasi Ilmu, yaitu Islamisasi konsep Sosialisme Marxist. Statemen yang jelas-jelas memberikan stimulasi awal bagi Tjokroaminoto untuk melakukan Islamisasi konsep atau paham Sosialisme.[20] Dan hingga saat ini, ide tentang islamisasi pengetahuan masih terus berkembang. Pro dan kontra selalui mewarnai ide-ide baru.
B. Konsepsi Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Istilah Islamisasi ilmu dalam bahasa Arab disebut “Islamiyyat al-Ma’rifat” atau “Islamization of Knowledge” dalam bahasa Inggris. Islamisasi ilmu pengetahuan sebenarnya telah lahir sejak Al-Ghazali menulis karya yang berjudul Tahafut al-Falasifah. Dan di zaman modern, zaman yang dianggap sebagai hegemoni barat, gagasan tersebut dipopulerkan kembali oleh beberapa tokoh pembaharu, berawal dari bahaya hegemoni epistemologi sekuler barat yang telah melenyapkan wahyu sebagai sumber ilmu, sehingga menjadikan pengetahuan modern menjadi kering dan kehilangan kesakralannya (terpisah dari nilai-nilai tauhid dan teologis), artinya Ilmu Pengetahuan modern melihat alam dan manusia hanya sebagai material dan dan insidental yang eksis tanpa intervensi Tuhan, sehingga ia bisa dieksploitir tanpa perhitungan.[21] Hal ini dipandang sebagai produk yang tidak sesuai dengan Islam, maka lahirlah sebuah gagasan islamisasi ilmu pengetahuan.
Islamisasi Pengetahuan menurut Al-Attas ialah Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belengu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi.[22] Untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan, menurut al-Attas, perlu melibatkan dua proses yang saling berhubungan. Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, dan kedua, memasukan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Jelasnya, ilmu hendaknya diserapkan dengan unsur-unsur dan konsep utama Islam setelah unsur-unsur dan konsep pokok dikeluarkan dari setiap ranting.[23]
Sekalipun demikian, ia tidak sependapat dengan model labelisasi sains sekuler dengan Islam. Hal demikian dianggap akan memperburuk keadaan, bajkan ia menganggap tidak ada manfaatnya selama subtansi sekulerisme masih berada ilmu itu. Sebab tujuan awal dari Islamisasi adalah melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Islamisasi ilmu dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya sehingga menambah keimanannya kepada Allah, dan dengan Islamisasi tersebut akan terlahirlah keamanan, kebaikan, keadilan dan kekuatan iman.[24]
Sedangkan menurut al-Faruqi, Islamisasi adalah usaha untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita).[25] Ia selanjutnya mendasarkan prinsip tauhid sebagai kerangka dasar pemikiran, metodologi dan cara hidup Islam. Prinsip tauhid (kesatuan) oleh al-Faruqi dikembangkan menjadi lima macam, yaitu (1) Kesatuan Tuhan, (2) Kesatuan ciptaan, (3) Kesatuan kebenaran dan Pengetahuan, (4) Kesatuan kehidupan, dan (5) Kesatuan kemanusiaan.[26]
Secara umum, Islamisasi ilmu tersebut dimaksudkan untuk memberikan respon positif terhadap realitas ilmu pengetahuan modern yang sekularistik dan Islam yang "terlalu" religius, dalam model pengetahuan baru yang utuh dan integral tanpa pemisahan di antaranya. Sebagai panduan untuk usaha tersebut, al-Faruqi menggariskan satu kerangka kerja dengan lima tujuan dalam rangka Islamisasi ilmu, tujuan yang dimaksud ialah (1) Penguasaan disiplin ilmu modern, (2) Penguasaan khazanah arisan Islam, (3) Membangun relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu modern, (4) Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan Islam secara kreatif dengan ilmu-ilmu modern, dan (5) Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah.[27]
Untuk merealisasikan tujuan-tujuan tersebut, al-Faruqi menyusun 12 langkah yang harus ditempuh terlebih dahulu:
1. Penguasaan disiplin ilmu modern: prinsip, metodologi, masalah, tema dan perkembangannya
2. Survei disiplin ilmu
3. Penguasaan khazanah Islam: ontologi
4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam: analisis
5. Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu.
6. Penilaian secara kritis terhadap disiplin keilmuan modern dan tingkat perkembangannya di masa kini
7. Penilaian secara kritis terhadap khazanah Islam dan tingkat perkembangannya dewasa ini
8. Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam
9. Survei permasalahan yang dihadapi manusia
10. Analisis dan sintesis kreatif
11. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam
12. Penyebarluasan ilmu yang sudah diislamkan.[28]
C. Analisa Tentang Konsep Islamisasi Pengetahuan
Konsepsi Al-Attas dan Al-Faruqi tentang islamisasi ilmu pengetahuan tertuju pada tataran epistemologi bahwa ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi terikat (value bound) dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Prinsip tauhid merupakan kontruksi dasar islamisasi ilmu pengetahuan. Artinya bahwa Allah adalah sumber dari segala ilmu. Dengan demikian Islamisasi ilmu pengetahuan dapat diartikan dengan upaya menyaring ilmu dari nilai-nilai sekularisme yang dianggap tidak sesuai dengan Islam, dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai islam disamping menyebarluaskannya.
Perlunya islamisasi ilmu pengetahuan merupakan konsekwensi logis dari dominasi sekularisme barat yang menganggap ilmu bebas nilai, yang dalam kacamata al-qur’an sebagai sumber ajaran islam tidak dapat dibenarkan. Proses Islamisasi bergerak pada dua poros utama, yakni teoretis dan praktis. Poros pertama bertugas memperkenalkan, menjelaskan urgensi dan mengelompokkan mata rantai pokok dari ilmu pengetahuan serta menjelaskan sikap Al Qur’an dan prinsip-prinsip dasar Islam secara umum terhadap ilmu pengetahuan modern. Di lain pihak, poros kedua menentukan bentuk orientasi pokok dan rinciannya yang mendetail sesuai dengan pandangan Islam yang akan diamalkan kelak di lapangan secara nyata.
Di dalam filsafat ilmu pengetahuan terdapat cabang ontologi (cabang kajian yang berkaitan dengan obyek), epistemologi (cabang kajian yang berkaitan dengan metodologi) dan aksiologi (cabang kajian yang berkaitan dengan tujuan). Maka islamisasi ilmu pengetahuan niscaya harus meliputi tiga hal tersebut.
Persepsi akan arabisasi ilmu pengatahuan adalah aplikasi islamisasi ilmu pengetahuan, merupakan perspesi yang salah jika maksud dari islamisasi ilmu pengetahuan adalah menyaring ilmu dari nilai-nilai sekularisme yang dianggap tidak sesuai dengan Islam, dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai islam disamping menyebarluaskannya. Dan Praktek ayatisasi dan labelisasi islam pada ilmu umum merupakan salah satu cara dalam melakukan islamisasi ilmu pengetahuan. Namun pokok dari aplikasi islamisasi ilmu pengetahuan adalah penyesuaian ilmu umum dengan nilai-nilai islam melalui kajian ontology, epistemology, dan aksiologi yang pada akhirnya akan tercipta kembali sebuah peradaban islam yang madani.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai hasil dari pembahasan:
1. Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan konsekwensi logis dari hegemoni keilmuan dan peradaban barat yang telah mengurung masyarakat islam dan menempatkan diri mereka pada sudut buram sejarah. Kesadaran akan bahaya sekularisme pasca renaissance (Revolusi Industri di Inggris dan Revolusi Prancis) pada paruh kedua abad ke-18 M merupakan motivasi ilmuwan muslim untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis agama. Demi usaha pengembalian totalitas dan integralitas pemahaman dan pemaknaan Islam, beberapa intelektual Muslim berusaha mencari solusi yang signifikan dan akurat dengan merekonstruksi paradigma pemikiran Islam, yang populer disebut “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”, yakni menerima secara positif sains modern dalam bingkai prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam, melalui konsep awal Muhammad Iqbal pada Tahun 1930, Sayyed Hossein Nasr di Amerika pada tahun 1960-an, Sayyed M. Naquib al-Attas tahun 1977, Ismail Raji al-Faruqi tahun 1972-1982-an.
2. Konsepsi islamisasi ilmu pengetahuan dapat di deskripsikan sebagai upaya menerima secara positif sains modern dalam bingkai prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam dan menyaring ilmu dari nilai-nilai sekularisme yang dianggap tidak sesuai dengan Islam, dan menyesuaikannya dengan nilai-nilai islam melalui kajian ontology, epistemology, dan aksiologi disamping menyebarluaskannya, yang pada akhirnya akan tercipta kembali sebuah peradaban islam yang madani.
Bibliografi
Anwar, Chairil. Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam. Jakarta: Paramadina. 1996.
Bakar, Osman. Tauhid dan Sains. terj. Yuliani Liputo. Bandung: Pustaka Hidayah, 1991.
Fahmy, Hamid. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas. Bandung: Mizan, 1998
Gonggong, Anhar. HOS. Tjokroaminoto. Jakarta: Depdikbud, 1985.
Hashim, Rosnani. “Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah, Perkembangan dan Arah Tujuan, Majalah Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam (September 2005).
Madjid, Nurcholish. Kaki Langit Peradaban Islam. Jakarta: Paramadina, 1997.
_______________. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1998
_______________. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Mubarak, Jaih. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Islamika, 2008.
Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Nor Wan Daud, Wan Mohd. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas, diterjemahkan oleh Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas. Bandung: Mizan, 1998.
Raji al-Faruqi, Isma’il. Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. A. Mahyudin. Bandung: Pustaka. 1984.
Yatim, Badri. Sejarah Perdaban Islam, Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
Razaq, Abdul. “Islamisasi Ilmu Pengetahuan 1:Sejarah Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan", dalam http://intl.feedfury.com/content/38014551-islamisasi-ilmu-pengetahuan-1-sejarah-gagasan-islamisasi-ilmu- pengetahuan.html (1 September 2009)
[1]Sekularisme adalah suatu paham yang tertutup, suatu system idiologi tersendiri dan lepas dari agama. Perspektif Islam, sekularisme adalah perwujudan modern faham dahriyyah, seperti diisyaratkan dalam surat al-Jatsiyah, ayat 24. Lihat Nurcholish Majid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (bandung: Mizan, 1998), 257.
[2]Chairil Anwar, Islam dan Tantangan Kemanusiaan Abad XXI, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000),16
[3]Nurcholish Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam (Jakarta: Paramadina, 1997), 21.
[4]Jaih Mubarak, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Islamika, 2008), 143.
[5]Badri Yatim, Sejarah Perdaban Islam, Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), 48.
[6]Nurcholis Majid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), 22.
[7]Ibid.
[8]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 13.
[10]Menurut Marshal G.S Hodgson, yang dikutip Nurcholis Majid dalam bukunya Khazanah Intelektual Islam, hal 50, Hakikat Abad Modern adalah Teknikalisme dengan tuntunan efisiensi kerja yang tinggi, yang diterapkan kepada semua bidang kehidupan. Selanjutnya ia menegaskan dalam halaman 54, bahwa Kegagalan masyarakat islam mempelopori kemodernan karena tiga hal: 1) Konsentrasi yang kelewat besar terhadap penanaman modal harta dan manusia pada bidang-bidang tertentu, 2) Kerusakan hebat baik mental-psikologis maupun material akibat serbuan bangsa mongol, 3) Tidak adanya keinginan kaum muslimin untuk merasa perlu secara mendesak kepada peningkatan lebih tinggi. Ketiganya menimbulkan kejenuhan
[11]Nurcholis Majid, Khazanah … 50.
[12]Miftahul Huda, “Historisitas Islamisasi Ilmu Pengetahuan”, dalam http://drmiftahulhudauin.multiply.com/journal/item/13 (2 Desember 2008)
[13]Adnin Armas, “Dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan”, dalam http://www.insistnet.com (September 2005), 1.
[14]Muhammad Isma’il, “Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer”, dalam http://assaadah.com (6 November 2009)
[15] Osman Bakar. Tauhid dan Sains. terj. Yuliani Liputo. (Bandung: Pustaka Hidayah, 1991), 220.
[16] Hamid Fahmy, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas (Bandung: Mizan, 1998), 341.
[17]Rosnani Hashim, “Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah, Perkembangan dan Arah Tujuan, Majalah Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam (September 2005), 29.
[19] Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam, (Jakarta: Paramadina. 1996), 50-51.
[22] Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas, diterjemahkan oleh Hamid Fahmy dkk, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas (Bandung: Mizan, 1998),336.
[24]Rosnani Hashim, “Gagasan Islamisasi.., 35.
[25]Isma’il Raji al-Faruqi. Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. A. Mahyudin. (Bandung: Pustaka. 1984), 36.
[26]Ibid., 55.
[27]Ibid., 98.
[28]Ibid., 99.
0 komentar:
Posting Komentar